Sunday, February 24, 2013
Post Kolonial & Wisata Sejarah
Judul : Post Kolonial & Wisata Sejarah dalam sajak.
Penulis : Zeffry Alkatiri
Penerbit : Padasan
Cetakan : I, 2012
Tebal : 192 hlm
Kita sering membaca sejarah ditulis dalam bentuk buku teks atau difiksikan dalam bentuk novel, namun sejarah yang ditulis, diinterpretasikan, dan dibukukan dalam bentuk puisi rasanya baru kali ini kita menemukannya dalam buku "Post Kolonial Wisata Sejarah dalam Sajak" karya Zeffry Alkatiri, penyair, pengamat sejarah yang juga pengajar dan peneliti di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UI.
Dalam buku kumpulan puisinya ini Zeffry menafsirkan sejarah dalam bentuk puisi/sajak dalam kalimat-kalimat yang lugas, tanpa kiasan-kiasan atau metafora-metafora yang kadang membingungkan pembacanya. Semua puisinya ditulis dalam bentuk sajak realis sarat dengan kritik sosial yang langsung mengena hati dan pikiran pembacanya.
Sebagai contoh mari kita lihat sajak berjudul Smakelijk Eten, Meneer! yang menggambarkan bagaimana posisi para meneer Belanda dan ungkapan kekesalan jongos pribumi yang melayani mereka di masa kolonial dulu.
"Smakelijk eten, Menner!"
Diucapkan oleh para jongos berseragam tanpa sepatu
Yang antre menyediakan Risjsttafel dalam nampan-nampan
Kepada para Dewa dan Dewi kemakmuran
Yang mulutnya seperti gua
Yang tak pernah selesai menelan segala.
"Makanlah apa yang tuan mau"
Kami akan sediakan.
Kami akan sediakan,
Smakelijk eten, Meneer!"
Cuah!!
(2010)
Buku ini memuat 117 sajak yang terbagi dalam dua bagian besar yang mengikuti periode historis sejarah Indonesia dan dunia, bagian pertama terdiri dari 21 puisi dengan tema nusantara sejak kedatangan pengembara asing yang pertama hingga keadaan Indonesia di masa kolonialisme dan setelahnya . Bagian kedua terdiri dari 96 puisi yang diberi nama Wisata Sejarah yang merupakan tafsiran penulis dari penggalan sejarah bangsa-bangsa di dunia.
Di bagian pertama puisi yang menurut saya paling menarik adalah puisi berjudul "Kami Hanya Menonton: Pengakuan si Midun, si Amat, dan si Inah (Dari Buyut sampai Cucu). Puisi ini merupakan puisi yang terpanjang dalam buku ini, tersaji dalam 104 stanzah, 28 halaman, dalam cakupan periode historis sejak jaman kolonial Belanda hingga masa kini. Puisi ini merekam keadaan sejarah dan kondisi sosial Indonesia dari masa ke masa. Berikut saya cuplikkan beberapa stanzah secara acak (bukan dalam urutan aslinya) dalam puisi ini yang mewakili beberapa periode waktu.
Kami sering menonton:
Ketika para nyonya dan noni
Membeli roti dan kue-kue
Di toko Van Otten dan Borgerij
Kalau sudah begitu
Kami hanya bisa membayangkan
Kue tampah murah Mpok Minah
......
Kami menonton
Orang Belanda dan Indo
Dikerangkeng seperi di kebon binatang
Kami melihat : tubuh mereka kurus dan kumal
Tak bedanya dengan kami yang berada di luar.
.......
Kami menonton:
Banyaknya orang antre beras dan minyak
Di wilayah kampung kami setiap hari
Kami melihat :
Banyak perempuan muda tak mampu
Membeli jepitan rambut paling murah sekalipun
Dan kami juga menonton:
Mulai banyak orang tidur di kolong jembatan,
Di tempat pembuangan sampah, dan di emperan jalan.
Sementara kami menonton:
Presiden kami kawin lagi.
....
Kami menyaksikan :
Generasi baru kami hanya mengenal
Para pahlawan dari beberapa negeri asing
Yang mempunyai nomor dan nama
Di punggung mereka
.....
Kami menonton :
Iring-Iringan mobil presiden hampir setiap hari di Jakarta
Kalau sudah begitu:
Kami harus menunggu lama karenanya.
Bahkan pernah ada seorang ibu yang terpaksa harus melahirkan di jalan.
Sementara presiden, wakil presidan dan para istrinya senyam senyum saja
Melihat jalanan yang dirasakan lenggang olehnya.
....
Ada banyak sekali puisi-puisi menarik dalam buku ini. Bagian pertama dengan mudah kita dapat memahaminya karena pada umumnya kita mengetahui sejarah bangsa kita sendiri, namun di bagian kedua (Wisata Sejarah) dimana berisi puisi-puisi tentang sejarah bangsa-bangsa di dunia walau ditulis dalam puisi yang relaitf pendek-pendek (hanya dalam beberapa baris saja) namun bagi kita yang tidak memahami latar sejarah dunia yang memadai rasanya akan sulit untuk menangkap isi dari puisi-pusi di bagian kedua buku ini.
Buku ini saya rasa baik untuk dibaca siapa saja yang ingin mengetahui sejarah lewat puisi yang realis, terlebih bagi mereka yang suka sejarah. Buku ini menawarkan kebaharuan dalam membaca dan menginterpretasi sejarah plus kritik-kritik sosialnya dalam dalam bentuk puisi. Mona Lohanda dalam kata penutupnya mengatakan bahwa lewat puisi-puisi dalam buku ini "Kita diajak untuk menjadi bijaksana, belajar dari sejarah, belajar menjadi bangsa yang berdikari-mandiri dan berbangga diri"
Buku ini juga dipilih oleh dewan juri Khatulistiwa Litrary Award (KLA) 2012 sebagai pemenang kategori puisi. Dalam laporan pertanggung jawabannya dewan juri berpendapat bahwa :
Ia menghadirkan semacam kritik atas kritik, dengan mengajukan banyak pertanyaan terhadap kenyataan yang dianggap mapan. Sebuah intervensi yang khas sastra terhadap upaya menghadirkan sejarah yang lurus dengan pikiran yang logis.
Satu hal yang menjadi catatan juri KLA 2012 atas buku ini adalah soal judulnya yang tidak mencerminkan sebuah buku puisi :
Satu-satunya masalah dengan kumpulan ini yang dirasakan juri adalah judulnya, yang bisa membuat orang salah mengira sedang berhadapan dengan sebuah tesis ilmiah, dan juga berpotensi mematahkan gairah membaca
Sumber : http://bukuygkubaca.blogspot.com/2012/12/post-kolonial-wisata-sejarah-dalam.html?m=1
Friday, February 15, 2013
Sejarah Komunisme Di Indonesia
Sejarah Komunisme Di
Indonesia
Komunisme di Indonesia memiliki sejarah
yang kelam, kelahirannya di Indonesia tak jauh dengan hadirnya para orang-orang
buangan dari Belanda
ke Indonesia
dan mahasiswa-mahasiswa jebolannya yang beraliran kiri. Mereka di antaranya Sneevliet,
Bregsma, dan Tan Malaka
(yang terahir masuk setelah SI Semarang sudah terbentuk). Alasan kaum pribumi
yang mengikuti aliran tersebut dikarenakan tindakan-tindakannya yang melawan kaum
kapitalis dan pemerintahan, selain itu iming-iming propaganda PKI juga menarik
perhatian mereka.
Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya,
yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya yang
dikenal dengan nama VSTP.
Awalnya VSTP hanya berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa.
saja, namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi pun ikut di dalamnya.
Salah satu anggota yang menjadi besar adalah Semaoen
kemudian menjadi ketua SI Semarang.
Komunisme Indonesia mulai aktif di Semarang,
atau sering disebut dengan Kota Merah setelah menjadi basis PKI di era
tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhaluan kiri ke dalam SI (Sarekat Islam)
menjadikan komunis sebagian cabangnya karena hak otonomi yang diciptakan
Pemerintah Hindia Belanda atas organisasi lepas menjadi salah satu ancaman bagi
pemerintah. ISDV menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas
banyaknya pemogokan buruh di Jawa. Konflik dengan SI pusat di Yogyakarta
membuat personel organisasi ini keluar dari keanggotaan SI, setelah disiplin
partai atas usulan Haji Agus Salim disahkan oleh pusat SI.
Namun
ISDV yang berganti nama menjadi PKI semakin kuat saja dan di antara pemimpin mereka dibuang
keluar Hindia Belanda. Kehancuran PKI fase awal ini
bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang
memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan Malaka
yang tidak setuju karena komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba
menghentikannya. Namun para tokoh PKI tidak mau menggubris usulan itu kecuali
mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan itu terjadi pada tahun 1926-1927 yang berakhir dengan
kehancuran PKI dengan mudah oleh pemerintah Hindia Belanda. Para tokoh PKI
menganggap kegagalan itu karena Tan Malaka mencoba menghentikan pemberontakan
dan memengaruhi cabang PKI untuk melakukannya.
Gerakan PKI lahir pula pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang diawali
oleh kedatangan Muso
secara misterius dari Uni Sovyet ke Negara Republik (Saat itu masih
beribu kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno
dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato dengan lantang di Yogyakarta dengan
kepercayaannya yang murni komunisme. Disana ia juga mendidik calon-calon
pemimpin PKI seperti D.N. Aidit. Musso dan pendukungnya kemudian
menuju ke Madiun.
Disana ia dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan
komunis. Gerakan ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno, Amir
Syarifuddin yang tidak jelas ideologinya. Divisi Siliwangi akhirnya
maju dan mengakhiri pemberontakan Muso ini. Beberapa ilmuwan percaya bahwa ini
adalah konflik intern antarmiliter Indonesia pada waktu itu.
Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut PKI
menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno
yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, dimana antar
ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru
dalam politik Indonesia. Permusuhan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas
saja, melainkan juga di tingkat bawah dimana tingkat anarkisme
banyak terjadi antara tuan tanah dan para kaum rendahan. Namun Soekarno
menjurus ke kiri dan menganak-emaskan PKI. Akhirnya konflik dimana-mana
terjadi. Ada suatu teori bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta. Yakni
PKI yang mengusulkan Angkatan Perang Ke 5 (setelah AURI, ALRI, ADRI dan
Kepolisian) dan isu penyergapan TNI atas Presiden Soekarno saat ulang tahun
TNI. Munculah kecurigaan antara satu dengan yang lain. Akhirnya dipercaya
menjadi sebuah insiden yang sering dinamakan Gerakan 30 September.
Ada kemungkinan Indonesia
menjadi negara komunis andai saja PKI berhasil berkuasa di Indonesia. Namun hal tersebut tidak
menjadi kenyataan setelah terjadinya kudeta dan peng-kambing hitaman komunisme
sebagai dalang terjadinya insiden yang dianggap pemberontakan
pada tahun 1965 yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September.
Hal ini juga membawa
kesengsaraan luar biasa bagi para warga Indonesia dan anggota keluarga yang
dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara 500.000
sampai 2 juta jiwa manusia dibunuh di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September. Hal ini merupakan
halaman terhitam sejarah negara Indonesia. Para tertuduh yang tertangkap
kebanyakan tidak diadili dan langsung dihukum. Setelah mereka keluar dari ruang
hukuman mereka, baik di Pulau Buru atau di penjara, mereka tetap
diawasi dan dibatasi ruang geraknya dengan penamaan Eks Tapol.
Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto,
aktivitas kelompok-kelompok komunis, marxis, dan haluan kiri lainnya mulai
kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun belum boleh mendirikan
partai karena masih dilarang oleh pemerintah.
(Sumber: wikipedia)
Keroncong
Keroncong adalah sebuah jenis musik yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia. Dari keroncong inilah seorang Gesang mengibarkan panji bangsa Indonesia di tingkat Internasional. Betapa Jepang begitu kesengsem dengan jenis musik ini dan memberikan penghargaan yang begitu tinggi terhadap keroncong. Tapi apa yang terjadi di sini: Indonesia. Keroncong menjadi satu jenis musik yang termarjinalkan. Semakin hari keroncong seperti kehilangan peminatnya, terutama di kalangan anak muda
Asal-usul
Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
alat musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.
Pem-"pribumi"-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti
sitar India
rebab
suling bambu
gendang, kenong, dan saron sebagai satu set gamelan
gong.
Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup
ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong)
ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
biola (menggantikan Rebab);
flut (mengantikan Suling Bambu);
selo; betot menggantikan kendang
kontrabas (menggantikan Gong)
Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan akord. Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.
Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ tunggal serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).
Jenis keroncong
Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi.
Perkembangan keroncong masa kini
Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung Tugu tahun 1661 [3], dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.
Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini, dengan tiga tahap perkembangan terakhir yang sudah berlangsung dan satu perkiraan perkembangan baru (keroncong avant-garde). Tonggak awal adalah pada tahun 1879 [4], di saat penemuan ukulele di Hawai [5] yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong), sedangkan awal keroncong avant-garde belum diketahui waktu dan tempatnya.
Empat tahap masa perkembangan tersebut adalah
(a) Masa stambul (1880-1920),
(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan
(c) Masa keroncong modern (1960-kini), serta
(d) Masa keroncong Avant-garde (20??). Masa stambul (1880-1920)
Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii, sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, sekitar tahun 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu Stambul I, Stambul II, dan Stambull III.
Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat, dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan rekaman Idris Sardi main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M. Sagi). Seperti diketahui bahwa panjang lagu stambul adalah 16 birama, yang terdiri atas:
Stambul I: Lagu ini misalnya Terang Bulan, Potong Padi, Nina Bobo, Sarinande, O Ina Ni Keke, Bolelebo, dll. dengan struktur bentuk A - B - A - B atau A - B - C - D (16 birama):
|I , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |
|, , , , |, , , , |, , , , |I , , , |
|I7, , , |IV, , , |, , V7, |I , , , |
|, , , , |V7, , , |, , , , |I , , , ||
Stambul II: Lagu ini misalnya Si Jampang, Jali-Jali, di mana masuk pada Akord IV sebagai ciri Stambul II dengan struktur A - B - A - C (16 birama):
|I . . . |. . . . |. . . . |IV, , , | (tanda . artinya tacet)
|, , , , |, , , , |, , V7, |I , , , |
|, , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |
|, , , , |, , , , |, , , , |I , , , ||
Stambul III: Lagu ini misalnya Kemayoran, di mana mirip dengan Keroncong Asli sehingga sering salah diucapkan dengan Kr. Kemayoran, yang seharusnya Stambul III Kemayoran, dengan struktur Prelude - A - B - Interlude - C - D (16 birama):
|I , , , |, , , , | Prelude 2 birama
|, , , , |, , , , |
|II#, , ,|V7, , , | Modulasi 2 birama
|, , , , |IV, , , | Interlude 2 birama
|, , V7, |I , , , |
|, , , , |V7, , , |
|, , , , |I , , , ||
Dari periode stambul ini lahir pula di Makassar bentuk keroncong khas yang dikenal sebagai losquin.
Masa keroncong abadi (1920-1960)
Pada masa ini panjang lagu telah berubah menjadi 32 birama, akibat pengaruh musik pop Amerika yang melanda lantai dansa di Hotel2 Indonesia pada waktu itu, dengan musisi didominasi dari Filipina (spt Pablo, Sambayon, dll), dan berakibat juga lagu pada waktu itu telah 32 birama juga, perhatikan lagu Indonesia Raya (1924) pada waktu itu juga sudah 32 birama. Selanjutnya pusat perkembangan beralih ke Solo dan iramanya juga lebih lamban (sekitar 80 untuk seperempat nada). Masa ini lahir para musisi Solo spt Gesang. Lagu Keroncong Abadi terdiri atas:
Langgam Keroncong: Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A - A - B - A dengan pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse A - Verse A - Bridge B - Verse A, panjang 32 birama. Beda sedikit pada versi kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan. Penyanyi serba bisa Hetty Koes Endang misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam. Alur akord-nya sebagai berikut:
Verse A | V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
Verse A |V7 , , , | I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
Bridge B |I7 , , , |IV , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | II# , , , | II# , , , | V , , ,|
Verse A |V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
Stambul Keroncong: Stambul Keroncong berbentuk (A-B-A-B') x 2 = 16 birama x 2 = 32 birama, merupakan modifikasi Stambul II yang 16 birama menjadi 32 birama (menyesuaikan standar Keroncong Abadi yang 32 birama). Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama "stambul" diambil dari Istambul di Turki.
Alur akord Stambul Keroncong adalah sbb. (tanda - adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):
|I - - - | - - - - | - - - - |IV , , , | dibuka dg broken chord I utk mencari nada
|IV , , , |IV , , , |IV , V ,|I , , , |
|I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
|V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
|I , , , |I , , , |I , , , |IV , , , | 16 birama ini pengulangan dari 16 birama pertama atau sama
|IV , , , |IV , , , |IV , V , |I , , , |
|I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
|V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
Keroncong Asli Keroncong asli memiliki bentuk lagu A - B - B'. Lagu terdiri atas 8 baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan PRELUDE 4 birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi INTERLUDE standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga. Keroncong asli diawali oleh voorspel atau prelude, atau intro yang diambil dari baris 7 (B3) mengarah ke nada/akord awal lagu, yang dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau gitar; dan tussenspel atau interlude atau intermezzo di tengah-tengah setelah modulasi/modulatie/modulation yang standar untuk semua keroncong asli: Alur akordnya seperti tersusun di bawah ini:
|V , , , |I , I7 , |IV , V7 , |I , , , | prelude 4 birama diambil dari baris ke-7 (B3)
(A1) | I , , , | I , , , | V , , , | V , , , |
(A2) |II# , , , | II# , , , | V , , , | modulasi merupakan ciri keroncong asli sebanyak 4 birama
|V , , , | V , , , | V , , , |IV , , , | interlude 4 birama untuk semua lagu menjadi standar
(B1) | IV , , ,| IV , , ,|V7 , , , | I , , , |
(B2) |I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , I7 , |
(B3) |IV , V7 , |I , I7 , | IV , V7 , |I , , , |
(B2) | I , , , | V7 , , , | V7 , , ,| I , , , |
Kadensa Keroncong Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni sebagai penutup pada akhir melodi atau di tengah kalimat, sehingga bisa menutup sempurna melodi tersebut atau setengah menutup (sementara) melodi tersebut. Pada Masa Keroncong Abadi dikenal rangkaian penutup I7-IV-V7-I.
1.Kadensa dengan rangkaian V7-I disebut sebagai Kadensa Sempurna, karena sempurna menutup rangkaian tersebut dan terasa berhenti sempurna.
2.Tetapi kalau akord X-V7 menjadi akhir rangaian, maka disebut Kadensa Tidak Sempurna atau Setengah Kadensa, misalnya rangkaian Super Tonik - Dominan Septim.
3.Kalau rangkaian harmoni diakhiri pada X-VI, maka disebut Kadensa Terputus, misalnya Doninan Septim - Submedian.
4.Dalam rangkaian IV-I disebut Kadensa Plagal, mempunyai sifat sendu seperti kalau kita mengucap "Amin" dalam sholat.
5.Kadensa Keroncong, khusus dikembangkan dalam musik keroncong, yaitu rangkaian harmoni I7-IV-V7-I
Gambang Keromong Gambang Keromong adalah salah satu gaya keroncong yang dikembangkan oleh Etnis Tionghoa (gambang adalah alat musik bilah kayu seperti marimba, sedangkan keromong adalah istilah lain dari kempul) yang dikembangkan tahun sekitar 1949 di Jakarta (tanjidor), namun kemudian berkembang di Semarang (ingat lagu Gambang Semarang - Oey Yok Siang). Sebenarnya Gambang Keromong yang lahir di Masa Keroncong Abadi 1920-1960 adalah cikal bakal Campursari yang lahir pada Masa Keroncong Modern.
Masa keroncong modern (1960-kini)
Perkembangan keroncong masih di daerah Solo dan sekitarnya, namun muncul berbagai gaya baru yang berbeda dengan Masa Keroncong Abadi (termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai dengan lingkungannya.
Langgam Jawa
Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh. Tahun 1968 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari.
Umumnya mempunyai struktur lagu pop yaitu A - A - B - A atau juga A - B - C - D dangan jumlah 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang terkenal di tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008): Yen Ing Tawang Ana Lintang (Tawang dalam Bahasa Jawa berarti: awang-awang, langit, dan makna lain nama suatu desa di Magetan, Kalau di Langit Ada Bintang). Langgam Jawa menjadi terkenal oleh Waljinah yang pernah sebagai juara tingkat sekolah SMP di RRI Solo tahun 1958.
Keroncong Beat
Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar pimpinan Rudy Pirngadie, di Jakarta pada tahun 1959 dan bisa mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih bersifat universal). Pada waktu itu Idris Sardi ikut tur ke New York World's Fair Amerika Serikat dengan biola tahun 1964 dengan maksud mau memperkenalkan lagu pop barat (I left my heart in San Fransico, pada waktu itu tahun 1964 lagu ini merupakan salah satu hit di dunia) dengan iringan keroncong beat, namun dia kena denda melanggar hak cipta akibat tanpa izin.
Dengan Keroncong Beat maka berbagai lagu (bukan dengan rangkaian harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) dapat dinyanyikan seperti La Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.
Campur Sari
Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) pada tahun 1968 Manthous memperkenalkan gabungan alat gamelan dan musik keroncong, yang kemudian dikenal sebagai Campursari. Kini daerah Solo, Sragen, Ngawi, dan sekitarnya, terkenal sebagai pusat para artis musik campursari. Bahkan Bupati Sukoharjo ikut meramaikan bursa campursari.
Keroncong Koes-Plus
Koes Plus dikenal sebagai perintis musik rock di Indonesia, pada sekitar tahun 1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan adalah Keroncong Koes Plus dengan struktur bentuk campuran (dalam bahasa Belanda disebut Meng-vorm atau Inggris Combine form) antara Stambul II dan Keroncong Asli.
Seandainya band rock Indonesia bisa mengikuti jejak Koes-Plus untuk melestarikan budaya sendiri seperti keroncong, maka betapa indah musik rock Indonesia dapat ngetop dengan irama kampung halaman, berarti musik keroncong jangan mati (ucapan Gesang). Mudah-mudahan Mbah, generasi muda Indonesia dapat melanjutkan musik keroncong .
[sunting] Keroncong Dangdut (Congdut)
Keroncong dangdut (Congdut) adalah jawaban atas derasnya pengaruh musik dangdut dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring dengan menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah musisi, konon dimulai dari Surakarta, memasukkan unsur beat dangdut ke dalam lagu-lagu langgam Jawa klasik maupun baru. Didi Kempot adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang terkenal antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.
Masa keroncong Avant-garde (20??)
Pada suatu ketika keroncong juga akan memasuki Masa Avant-garde atau Masa pasca-modern, entahlah kapan akan terjadi. Namun bisa diperkirakan berasal dari kelompok ultra-modern, mungkin bisa lahir di Bali, atau di tempat lain seperti Solo, Yogya, bahkan Jakarta (?).
Tokoh keroncong
Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki "Buaya Keroncong" oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong. Gesang menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang di Jakarta (Tugu , Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat; sedangkan setelah pusat perkembangan pindah ke Solo (MASA KERONCONG ABADI: 1920-1960) iramanya menjadi lebih lambat.
Di sisi lain nama Anjar Any (Solo, pencipta Langgam Jawa lebih dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga mempunyai andil dalam keroncong untuk Langgam Jawa beserta Waljinah (Solo), sedangkan R. Pirngadie (Jakarta) untuk Keroncong Beat, Manthous (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan Koe Plus (Solo/Jakarta) untuk Keroncobg Rock, serta Didi Kempot (Ngawi) untuk Congdut.
Trivia
Asal muasal sebutan "Buaya Keroncong" berkisar pada lagu ciptaannya, Bengawan Solo. Bengawan Solo adalah nama sungai yang berada di wilayah Surakarta. Seperti diketahui, buaya memiliki habitat di rawa dan sungai. Reptil terbesar itu di habitanya nyaris tak terkalahkan, karena menjadi pemangsa yang ganas. Pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa Gesang disebut sebagai "Buaya Keroncong".
References
- ^ "‘Keroncong’: Freedom music from Portuguese descendants". The Jakarta Post. PT. Bina Media Tenggara. 16. Retrieved 11 June 2012.
- ^ Fisher, Paul. "The Rough Guide to the Music of Indonesia." Liner notes to recording of the same title. http://www.farsidemusic.com/RG_INDONESIA.html
- ^ Video footage of Kroncong Baru performed in the Netherlands.
- ^ See also: Video footage..]
- ^ "Ukulele History" http://www.sheetmusicdigital.com/ukulelehistory.asp
- ^ "A Little history of Ukulele" http://web.archive.org/web/20091028045102/http://www.geocities.com/~ukulele/history.html
- ^ Sunaryo Joyopuspito, Musik Keroncong: A Musical Analysis based on Music Theory, Bina Musik Remaja – Jakarta 2006. (Indonesian)
- ^ Cohen, Matthew. ""On the origin of the Komedie Stamboel: Popular culture, colonial society, and the Parsi theatre movement"". (Indonesian)
- ^ (Indonesia) Kompas, “Bengawan Solo" dalam Musik Tradisional China” <http://nasional.kompas.com/read/2008/12/13/01194152/quotbengawan.soloquot.da
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo
Pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis
(politik balas budi). Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah
modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang
anak negeri yang berkesempatan mengenyam pendidikan modern ini. Hal ini
disebabkan karena ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting sebagai seorang
pribumi saat itu. Pada umur 8 tahun, Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche
School der Tweede Klasse (ISTK). Sekolah ini menjadi sekolah nomor dua bagi
kalangan bumiputera. Empat tahun kemudian, ia masuk ELS di Bojonegoro
(sekolah untuk orang Eropa).
Orang Indonesia yang berhasil masuk ELS adalah orang yang
memiliki kecerdasan yang tinggi. Di Bojonegoro,
Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya yang bernama Notodiharjo, seorang tokoh
Islam modern yang mengikuti alur pemikiran Muhammadiyah.
Ia menanamkan pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran Kartosoewirjo.
Pemikiran Notodiharjo ini sangat
memengaruhi sikap Kartosoewirjo dalam meresponi ajaran-ajaran Islam.
Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923,
Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands
Indische Artsen School.Pada masa ini, ia mengenal dan bergabung dengan
organisasi Syarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Ia sempat tinggal
di rumah Tjokroaminoto. Ia menjadi murid sekaligus
sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto.
Tjokroaminoto sangat memengaruhi perkembangan
pemikiran dan aksi politik Kartosoewirjo. Ketertarikan Kartosoewirjo untuk
mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin
memengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak
mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki
integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Tahun 1927,
Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School karena
ia dianggap menjadi aktivis politik serta memiliki buku sosialis dan komunis.
Karier
S. M. Kartosoewirjo juga bekerja
sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar Asia. Ia membuat
tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk
Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda. Dalam artikelnya nampak pandangan
politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan agar kaum buruh bangkit untuk
memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa memelas. Ia juga sering mengkritik
pihak nasionalis lewat artikelnya. Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi
sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam Indonesia
(PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian
bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Di PSII ia
menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum, anak seorang tokoh PSII di Malangbong.
Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite
Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII).
Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah
partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena
itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi.
Menurutnya, PSII harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa
mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya
saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap Al-Qur’an. Ia
tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun berbagai rintangan
menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari
tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial.
Masa perang
kemerdekaan
Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949,
Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak
belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar
seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah.
Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit
wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri
yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri.
Negara Islam
Indonesia
Peristiwa Penangkapan Kartosuwiryo
Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat
semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo
kemudian memproklamirkan NII pada 7 Agustus
1949. Tercatat beberapa
daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi
Selatan dan Aceh.
Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk
menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lama.
Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah
melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat
pada 4 Juni
1962. Pemerintah Indonesia
kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada 12 September
1962 di Pulau Ubi, Kepulauan
Seribu, Jakarta.
Sumber Pustaka:
- Chaidar, Al. 1999. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S. M. Kartosoewirjo. Jakarta. Darul Falah.
- Dengel, Holk H., 1995. Darul Islam dan S. M. Kartosoewirjo. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
- Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Subscribe to:
Posts (Atom)




