Wednesday, October 30, 2013

Suasana di depan Hotel des Indes 1910

Suasana di depan Hotel des Indes 1910 (Foto koleksi Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute)

Thursday, October 3, 2013

Majalah Bintang Merah


Majalah Bintang Merah pertama kali terbit November 1945. Rosihan Anwar dalam bukunya, Napak Tilas ke Belanda, menyebut majalah Bintang Merah terbit pada 17 November 1945.

Sejak terbit, Bintang Merah sudah diposisikan sebagai jurnal teori. Majalah ini langsung dikontrol oleh departemen agitasi dan propaganda PKI. Aidit, yang saat itu ditempatkan di Agitprop partai, sempat menjadi salah satu nahkoda majalah ini.

Majalah yang mengusung slogan “Mingguan untuk Demokrasi Rakjat” terbit sekali dalam dua bulan. Selain Aidit, Lukman dan Njoto, yang saat itu juga sudah di Jogjakarta, juga terlibat di majalah ini.

Pada September 1948, terjadi “provokasi Madiun”. Sayap kanan segera menuding PKI melancarkan ‘pemberontakan’ di Madiun, Jawa Timur. Itulah yang menjadi dalih untuk membersihkan PKI dan kaum merah lainnya. Bintang Merah juga terkena imbasnya.

Pada tahun 1950-an, Aidit dan Lukman menghidupkan kembali Bintang Merah. Majalah itu resmi diluncurkan pada 15 Agustus 1950. Duduk dalam susunan dewan redaksi, antara lain: Aidit, Njoto, Lukman, dan Peris Pardede. Kantor redaksi menumpang di kediaman Peris Pardede di Jalan Kernolong 4 Jakarta.

Trikoyo Ramidjo, yang terlibat penerbitan Bintang Merah, menuturkan, tempat redaksi Bintang Merah itu sekaligus kantor CC PKI. Lalu, beberapa saat kemudian, kantor CC PKI dipindahkan ke gang Lontar.

“Dulunya ukurannya besar, tetapi kemudian diperkecil agar bisa masuk ke saku. Tetapi namanya tetap Bintang Merah,” kata Trikoyo.

Bintang Merah diproduksi hingga 10.000 eksemplar. Majalah ini distribusikan ke seluruh Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Penerbitan Bintang Merah tidak gampang. “Kita setengah mati kumpulkan duit. Itu dipakai untuk mengurus surat ijin penerbitan kertas. Sebab, tanpa surat itu, orang tidak bisa menerbitkan koran,” kenang Trikoyo.

Yang paling banyak menulis adalah tiga serangkai: Aidit, Njoto, dan Lukman. Sebagai jurnal teori, para penulis memang diharuskan adalah orang-orang yang memahami marxisme dengan baik.

Bintang Merah sering mengangkat soal Marxisme-Leninisme. Spesialis penulis di bagian ini adalah Aidit. Selain itu, edisi-edisi awal Bintang Merah banyak diwarnai artikel polemik dan penegasan posisi politik.

Edisi No.12-13 tahun 1951, misalnya, mengulas secara khusus mengenai sikap politik PKI terkait ‘peristiwa Madiun’. Seorang bernama Mirajadi menulis artikel berjudul “Tiga Tahun Provokasi Madiun”. Bagi PKI, provokasi Madiun merupakan buah dari pertemuan Sarangan, pada 12 Juli 1948, yang memutuskan apa yang disebut “red-drive proposal” atau pembasmian kaum merah.

Selain soal Madiun, Bintang Merah juga banyak menghajar penyimpangan-penyimpangan marxisme, khususnya Tan Malaka. Bintang Merah tahun ke-VI No.7, 15 November 1950 hlm. 206-208, misalnya, ada tulisan MH Lukman berjudul “Tan Malaka Penghianat Marxisme Leninisme”. Di situ, MH Lukman ‘menghabisi’ posisi teoritik Tan Malaka.

Serangan juga diarahkan kepada Hatta. Di Bintang Merah vol.7 nomor 1-2, Njoto menulis artikel berjudul “Pemalsuan Marxisme”, yang memblejeti pandangan Hatta tentang komunisme.

Di harian Sin Po 3 tahun 1950 Hatta menulis: “Apa bedanja antara saja dan seorang komunis? Bedanja jalah melainkan halnja saja masih memegang teguh igama dan seorang komunis tidak mau tahu igama. Lain dari dalam hal igama, tidak bedanja antara saja dan seorang komunis.”

Njoto membantah argumentasi itu. Di bidang ekonomi, katanya, Hatta setuju dengan pembangunan ekonomi sosialis, tetapi menolak nasionalisasi.

Bintang Merah memang banyak memainkan peran sebagai konsolidasi ide-ide marxisme. Dengan demikian, setelah orang-orang itu relatif sama dalam ide (marxisme-leninisme), maka pembangunan (reorganisasi) partai menjadi gampang.

Setelah terbit beberapa edisi, akhirnya muncul keinginan untuk membangun kembali PKI. Orang-orang PKI lama pun dikumpulkan. Beberapa ditugasi membangun onder seksi commite sebagai syarat pembentukan seksi komite.

“Kita bikin onder seksi komite di Senen dan Salemba dulu. Kita juga sengaja mencari orang Jakarta asli,” kata Trikoyo.

Pada bulan November 1950, ada peringatan peristiwa “12 November 1926” (Pemberontakan PKI terhadap kolonialisme Belanda). Diputuskan untuk menggelar rapat umum di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Njoto pidato singkat di rapat akbar itu. Inti pidatonya berusaha membangkitkan kembali semangat orang-orang PKI lama untuk membangun partai. Usai pidato, seperti diceritakan Trikoyo, panitia menyediakan formulir anggota.

Pada 7 Januari 1951, Komite Sentral (CC) dan Politbiro terbentuk. Anggotanya terdiri dari: Aidit, Lukman, Nyoto, Sudisman, dan Alimin. Belakangan Alimin mundur dan digantikan oleh Sakirman.

Bintang Merah punya jasa besar dalam membentuk dan membangun kembali PKI. Hal ini diakui pimpinan PKI sebagaimana tertulis di Bintang Merah, edisi 1-2 Djanuari 1951: “Bintang Merah kita memberikan sinar tjemerlang menerangi djalan jang harus ditempuh oleh anggota Partai dan kaum buruh jang sedar akan klasnja. Demikianlah tidak bisa diungkiri lagi, bahwa tersusunnja kembali organisasi-organisasi Partai di-daerah-daerah adalah sebagian besar atas dorongan dan pimpinan BintangMerah kita. Ketjuali itu, bersamaan dengan memberikan dorongan dan pimpinan dalam menjusun kembali organisasi-organisasi Partai didaerah-daerah Bintang Merah kita sekaligus memberikan dasar dan pimpinan untuk memakai sendjata kritik dan self-kritik… ”

Sumber http://m.berdikarionline.com/gotong-royong/20120302/majalah-bintang-merah.html

Kelam Ludruk Saat Peristiwa 1965

 Propaganda politik oleh partai politik di tahun 1965 tak hanya masuk dalam kegiatan politik praktis, tapi juga masuk dalam bidang seni budaya. Salah satunya terjadi pada seni pementasan ludruk. Ludruk kala itu jadi seni hiburan drama dan komedi paling populer di masyarakat. Sebagai seni massal, ludruk pun jadi komoditas partai politik dalam melancarkan propaganda kepentingannya, tak terkecuali Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Akibat intervensi politik kepentingan parpol, komunitas atau grup ludruk pun terpecah belah dan berafiliasi dengan lembaga kebudayaan yang jadi organisasi sayap parpol tertentu. PKI membentuk Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Partai Nasional Indonesia (PNI) memiliki Dewan Kebudayaan Nasional (DKN), dan kelompok Islam khususnya Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Salah satu tokoh seniman ludruk di Kota Mojokerto, Jawa Timur, Ibnu Sulkan, 67 tahun, mengatakan pementasan ludruk sempat dilarang saat peristiwa 1965. Waktu itu grup-grup ludruk dibawah Lekra sangat dominan dibanding grup ludruk lainnya. Pesan-pesan politik komunis pun diselipkan dalam pementasan ludruk Lekra. "Disampaikan lewat parikan-parikan (pantun bahasa Jawa) dan orang-orang (seniman ludruk) enggak sadar kalau dimanfaatkan," katanya dalam wawancara dengan Tempopertengahan September 2013 lalu.

Mudahnya kepentingan politik masuk dalam grup-grup seni khususnya ludruk menurut Sulkan karena keterbatasan sumber daya manusia pemain maupun pembina ludruk. "Rata-rata tidak lulus SR (Sekolah Rakyat setingkat Sekolah Dasar)," ucap bekas pemain grup ludruk Irama Muda dan Bintang Mojopahit ini. Sehingga menurutnya mudah dipengaruhi dengan iming-iming tertentu. "Asal dibayar atau diberi sesuatu, tentu mau main (ludruk)," ucap pendiri grup ludruk Putra Madya ini. 

LEKRA

Sementara itu, maestro tari Remo asal Jombang, Ali Markasa, 71 tahun, mengatakan selain lewat parikan, pesan politis PKI juga muncul dalam cerita atau lakon yang ditampilkan. "Ludruk-ludruk Lekra dulu bercerita tentang Kahar Muzakar (DI/TII), Aidit, Gerwani, dan sebagainya," katanya. 

Meski jadi saksi sejarah kejayaan Lekra, Sulkan maupun Ali mengaku tak tahu dengan lakon atau cerita ludruk Lekra yang jadi kontroversi masa itu seperti Gusti Allah Ngunduh Mantu (Tuhan Mengambil Menantu) dan Malaikat Kimpoi. "Saya enggak tahu. Saya hanya niat mencari nafkah lewat ludruk, tidakmikir politik," ucap Ali. 

Menurut budayawan Jombang, Nasrul Ilahi, sebelum terjadi polarisasi grup ludruk yang dipengaruhi kepentingan politik tahun 1960-an, di Jombang sudah terjadi perbedaan prinsip hidup antara kelompok ijo (hijau) seperti santri dan kiai dengan kelompokabang (merah). 

Meski berbeda prinsip hidup, menurutnya di antara kelompok ijodan abang masih bisa bersinergi atau bekerja sama dan bergotong royong dalam aktivitas kehidupan sosial kemasyarakatan. Namun saat pecah peristiwa G30S, hubungan baik itu terkoyak akibat politik. "Pengaruh politik memang cukup besar. Kesenian hanya ditunggangi saja," ujar Ketua Lembaga Pengkajian dan Pendidikan Alternatif Semesta ini. 

Banyak kiai yang dibunuh dan sebaliknya banyak orang-orang pengikut PKI yang dipenjara maupun dihabisi nyawanya termasuk seniman-seniman ludruk di bawah Lekra. "Jadi seperti saling dendam," tutur adik kandung budayawan Emha Ainun Najib ini.

Setelah G30S pecah, semua pementasan ludruk dilarang oleh pemerintah dan sempat vakum selama dua tahun. Namun akhirnya oleh pemerintah dihidupkan kembali dengan dibina dibawah institusi militer. "Karena ludruk itu aset budaya, akhirnya dihidupkan lagi dengan merekrut pemain-pemain ludruk lama tapi dibawah grup bentukan ABRI," kata Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto Eko Edy Susanto. 

LEKRA

Nama-nama grup ludruk pun identik dengan nama-nama Jawa maupun Sanskerta yang digunakan institusi militer. Misal grup ludruk bentukan Kodim Jombang, Putra Bhirawa dan Bintang Jaya; ludruk Gema Tribatra binaan Brimob Balongsari; Teratai Jaya bentukan Pusdik Brimob Porong, Bhayangkara binaan Polres Jombang, Trisula Dharma binaan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) Lanud TNI AU Iswahjudi Madiun, dan sebagainya.

Nuansa kemiliteran kental dalam pementasan ludruk kala itu. "Bahkan setiap pementasan selalu dimulai dengan tembakan salvo," ujar Edy. Seakan itu sebagai pertanda atau kebanggan jika ludruk tersebut setia pada tentara atau pemerintah. 

Di tahun 1970-an, mulai muncul grup-grup Ludruk diluar binaan institusi militer. Menurut Edy, keberanian kritik ludruk dari masa ke masa mengalami pasang surut. "Waktu Orde Lama, kritik pada kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat sangat tajam," katanya. Namun sejak Orde Baru dan di bawah tekanan militer, kritik tersebut nyaris hilang. "Malah jadi corong Orde Baru, ada kritiknya tapi sifatnya kritik sosial," katanya. Era sekarang menurutnya, keberanian kritik ludruk tidak jelas. 

Jumlah grup ludruk sekarang menurutnya jauh menurun dibanding saat Orde Lama, termasuk di Mojokerto dan Jombang. Selain akibat gejolak politik 1965, juga karena industri hiburan yang membuat ludruk terpinggirkan. Saat ini, jumlah grup ludruk yang masih aktif di Kabupaten Mojokerto dan Kota Mojokerto sekitar 16 grup. Sedangkan di Jombang yang merupakan tempat asal ludruk kini tersisa sekitar 35 grup dari sebelumnya sekitar 60 grup. 

Sumber:http://m.tempo.co/read/news/2013/10/01/173518012/Sejarah-Kelam-Ludruk-Saat-Peristiwa-1965

Sunday, September 29, 2013

Program Trias Van deventer



Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.

Munculnya kaum Etis yang di pelopori olehPieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer(politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang.

Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelminayang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van deventer yang meliputi:

  1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian
  2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi
  3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan

Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulsian Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.

Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia.

Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon (1852-1925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.

Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam pertukaran mental antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.

Pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diajukan oleh van Deventer tersebut baik. Akan tetapi dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan penyimpangan tersebut.

  • Irigasi

Pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.

  • Edukasi

Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya.

  • Migrasi

Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya di DeliSuriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi keLampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya.

Dari ketiga penyimpangan ini, terjadi karena lebih banyak untuk kepentingan pemerintahan Belanda.

Pelaksanaan politik etis bukannya tidak mendapat kritik. Kalangan Indo, yang secara sosial adalah warga kelas dua namun secara hukum termasuk orang Eropa merasa ditinggalkan. Di kalangan mereka terdapat ketidakpuasan karena pembangunan lembaga-lembaga pendidikan hanya ditujukan kepada kalangan pribumi (eksklusif). Akibatnya, orang-orang campuran tidak dapat masuk ke tempat itu, sementara pilihan bagi mereka untuk jenjang pendidikan lebih tinggi haruslah pergi ke Eropa, yang biayanya sangat mahal.

Ernest Douwes Dekker 

 termasuk yang menentang ekses pelaksanaan politik ini karena meneruskan pandangan pemerintah kolonial yang memandang hanya orang pribumilah yang harus ditolong, padahal seharusnya politik etis ditujukan untuk semua penduduk asli Hindia Belanda (Indiers), yang di dalamnya termasuk pula orang Eropa yang menetap (blijvers).

Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Politik_Eros

Tengku Amir Hamzah

a:3:{s:3:

 Tengku Amir Hamzah


1. Riwayat hidup

Dalam diri seorang penyair, ada dua aspek yang sering diperbincangkan, yaitu mengenai realitasnya sebagai seorang manusia, dan kapasitasnya sebagai seorang penyair. Dua realitas ini berjalan seiring, saling mempengaruhi dan saling menjelaskan. Dalam arti, pengalaman kemanusiaan sehari-hari tentu akan sangat mempengaruhi kualitas syair, dan sebaliknya, ekspresi-ekspresi kepenyairan merupakan teks penjelas mengenai sisi kemanusiaan seseorang.

Semua penyair adalah manusia, namun, tidak semua manusia menjadi penyair. Dalam konteks ini, kepenyairan merupakan nilai lebih dari sisi kemanusiaan seseorang. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika seorang penyair ditempatkan pada posisi tertentu dalam sejarah kemanusiaan kita, sambil diiringi hasrat yang kuat untuk memikirkan, memahami dan menghayati renungan-renungan agungnya. Amir Hamzah adalah seorang manusia penyair. Karena kepenyairannya, ia kemudian jadi terkenal; sebaliknya, karena sisi kemanusiaannya yang terlahir sebagai seorang anggota keluarga kesultanan Langkat, ia kemudian dibunuh.

Ia memang terlahir sebagai putera dari seorang keluarga istana, sebuah posisi politik yang tidak selamanya menguntungkan, apalagi pada saat itu. Sekali lagi, ia memang terlahir, bukan melahirkan diri. Sebab ia tak kuasa untuk memilih, apalagi menolak: apakah menjadi bagian dari rakyat jelata, atau bangsawan istana. Dalam hal ini, lahir sebagai seorang bangsawan atau rakyat jelata bukanlah suatu kesalahan, apalagi dosa. Maka, agak susah untuk dipahami, jika kemudian ia dibunuh --bukan terbunuh-- karena suatu realitas yang memang berada dalam dirinya, namun di luar kuasanya.  

Harmoni dan konflik adalah dua realitas yang akan terus berlangsung di muka bumi. Lahir pada 28 Januari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, Amir tumbuh dan berkembang dalam suasana harmonis keluarga sultan di istana. Sebagaimana kerajaan Melayu lainnya, Langkat juga memiliki tradisi sastra yang kuat. Lingkungan istana inilah yang pertama kali mengenalkan dunia sastra pada dirinya. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil adalah seorang pangeran di Langkat yang sangat mencintai sejarah dan sastra Melayu. Pemberian namanya sebagai Amir Hamzah disebabkan ayahnya yang sangat mengagumi Hikayat Amir HamzahAyahnya sering mengadakan pembacaan hikayat semalam suntuk dengan mendatangkan juru hikayat. Di antara hikayat tersebut adalahHikayat Hang Tuah, Sejarah Melayu, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Ali Hanafiah, Bustanussalatin dan kisah para nabi. Dalam lingkungan yang seperti itulah, kecintaan Amir terhadap sejarah, adat-istiadat dan kesusasteraan negerinya tumbuh. Lingkungan Tanjungpura juga sangat mendukung perkembangan sastra Melayu, mengingat penduduknya kebanyakan datang dari Siak, Kedah, Selangor, Pattani dan beberapa negeri Melayu lainnya. Dari situ, bisa dilihat latar belakang Amir yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan Melayu yang kental. Dalam masa pertumbuhannya di Tanjungpura, ia sekolah di Langkatsche School (kemudian berubah menjadi HIS), sebuah sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Pada sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat. Setelah tamat HIS, Amir melanjutkan studi ke MULO di Medan. Tidak sampai selesai, ia kemudian pindah sekolah ke MULO Jakarta. Saat itu, umurnya masih 14 tahun.

Disamping lingkungan istana Langkat dan kota Tanjungpura, perkembangan kepenyairan Amir Hamzah juga banyak dibentuk selama masa belajarnya di Jawa, sejak sekolah menengah di MULO Jakarta, Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, hingga Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Saat itu, Jawa adalah pusat pergerakan nasional Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Segala lini kehidupan dan potensi bangsa bersatu padu untuk meraih kemerdekaan tersebut. Suasana pergolakan, pertentangan dan idealisme yang menggebu telah membentuk karakter-karakter pemuda yang idealis, berpikir dalam dan jauh ke depan. Semasa studi di Jawa inilah, terutama ketika masih di AMS Solo, Amir menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya.

Revolusi memang sering melahirkan orang-orang besar, namun revolusi juga yang mengubur orang-orang besar tersebut. Amir Hamzah lahir dan besar di tengah revolusi, dan revolusi juga yang telah menguburnya. Ia meninggal akibat revolusi sosial di Sumatera Timur pada bulan Maret 1946, awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ia hilang tak tentu rimbanya. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kuala Begumit. Ia tewas dipancung tanpa proses peradilan pada dinihari, 20 Maret 1946. Sungguh disesalkan, penyair yang berwajah dan berhati lembut ini telah mati muda: 35 tahun. Saat ini, di kuburan Amir Hamzah terpahat ukiran dua buah sajaknya. Pada sisi kanan batu nisan, terpahat bait sajak;

Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musafir lata

Pada sisi kiri batu nisannya, terpahat ukiran bait sajak:

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia

Revolusi di Sumatera Timur memang telah berjalan tanpa kendali, sehingga banyak memakan korban orang-orang yang tidak berdosa. Apa salah dan dosa Amir Hamzah? Ia adalah seorang nasionalis sejati. Pada tahun 1931, ia pernah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo; ia bergaul dengan para tokoh pergerakan nasional; dan telah memberikan sumbangan tak ternilai pada dunia kesusasteraan. Kesalahannya saat itu adalah: ia lahir dari keluarga istana. Saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Sebagai korbannya, banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh, termasuk Amir Hamzah sendiri. Bagaimanapun, ia telah memberikan sumbangan tak ternilai dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia, melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

2. Pemikiran

Kelembutan hatinya tercermin dari wajahnya yang lembut. Namun, kelembutan itu juga menyimpan kesunyian, kesendirian, dan kegetiran. Di dalam hatinya, bersemayam kuat perasaan bimbang dan ragu. Ia mengangankan kesempurnaan, namun itu tak berhasil ia raih; ia menginginkan kedamaian, namun kedamaian itu tak kunjung ia rasakan, malah putus cinta yang datang mendera; dan dalam hubungan yang bersifat transenden dengan Tuhannya, ia ingin percaya sepenuhnya, namun justru kebimbangan yang tampak lebih kentara, yang bisa dirasakan dari bait-bait syairnya. Sebagai contoh, kebimbangan atau kegelisahannya bisa dirasakan dalam syairnya berikut ini:

Tuhanku Apatah Kekal?

Tuhanku, suka dan ria
gelak dan senyum
tepuk dan tari
semuanya lenyap, silam sekali.

Gelak bertukar duka
suka bersalinkan ratap
kasih beralih cinta
cinta membawa wangsangka...

Junjunganku apatah kekal
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apatah baka sepanjang masa...

Bunga layu disinari matahari
makhluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai.

Selangkan gagak beralih warna
semerbak cempaka sekali hilang
apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara...

Tuhanku apatah kekal?

(Amir Hamzah)

Untuk mengekspresikan kegelisahannya tersebut, Amir telah memilih bahasa Melayu sebagai media. Menurutnya, bahasa Melayu adalah bahasa yang molek, yang tertera jelas dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932: “Engkau kudengar telah menjadi guru sekarang, apakah yang kau ajarkan? Bahasa Melayu tentu, baik-baik Pane, jangan kau lipu-lipukan bahasa yang semolek itu”. Amir telah mengambil keputusan yang sangat tepat untuk menjadikan bahasa ibunya sebagai media sastra, di saat sastrawan lain lebih senang dan percaya diri menulis dalam bahasa Belanda. Jalan yang dipilih Amir tersebut telah membawa implikasi yang sangat luas ke depan terhadap perkembangan bahasa Indonesia yang saat itu baru saja disepakati sebagai bahasa nasional. Ia adalah perintis yang membangun kepercayaan diri para penyair nasional untuk menulis karya sastranya dalam bahasa Indonesia, sehingga posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan semakin kokoh. Bisa disimpulkan bahwa, perkembangan bahasa Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dari langkah awal yang telah diambil oleh Amir tersebut.

Disamping bahasa Melayu yang memang bahasa ibu bagi Amir, pilihannya untuk menggunakan bahasa ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa, sastrawan seperti Notosuroto yang menulis dalam bahasa Belanda sama sekali tidak digubris oleh dunia sastra Belanda. Notosuroto tersebut tidak memiliki tempat, di tepi Sungai Rijn tidak, di kaki Gunung Merapi juga tidak. Amir tidak ingin mengalami nasib yang sama, karena itu, ia memilih bahasa Melayu (Indonesia) sebagai media ekspresinya. Pergaulan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional selama menuntut ilmu di Jawa juga telah membentuk jiwa nasionalisme Amir. Pilihan pada bahasa Indonesia juga merupakan cerminan jiwa yang nasionalis tersebut. Bahasa Indonesia bagi Amir adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan, dan juga keislaman. Syair-syair Amir adalah refleksi dari relijiusitas, kecintaan pada ibu pertiwi dan kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu. Jika dalam kumpulan sajak pertamanya, Buah Rindu, pikiran Amir berpuncak pada paduka, bunda dan dinda,sebagaimana tercermin dari lirik sajaknya: Ke bawah paduka Indonesia raya//Ke bawah lebu Ibu-Ratu//ke bawah kaki Sendari-Dewi, maka pada kumpulan sajak keduanya, Nyanyi Sunyi, pikiran Amir merupakan refleksi dari kepasrahan dan kebersimpuhan di bawah kaki Tuhannya menuju maqam fana:Dalam rupa maha sempurna//Rindu sendu mengharu kalbu//Ingin datang merasa sentosa//Mencecap hidup bertentu tuju. 

3. Karya

Seandainya Amir tidak mati muda, mungkin akan lebih banyak lagi syair yang dihasilkannya. Tapi itulah, takdir seringkali takbisa ditebak, dan sejarah seringkali menjemput orang-orag terbaiknya lebih awal. Mati muda bukanlah pilihan hidup Amir, tapi lebih merupakan takdir tuhan, dan dalam tataran tertentu, kecelakaan sejarah. Walaupun hidupnya sangat singkat, Amir telah menghasilkan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Karya-karya tersebut terkumpul dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi SunyiSetanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita. Dari karya-karya tersebutlah, Amir meneguhkan posisinya sebagai penyair hebat. Sutan Takdir Alisjahbana menyebut karya-karya Amir dalamNyanyi Sunyi sebagai berkualitas internasional; para pengamat lain menyebut karya tersebut sebagai salah satu puncak kepenyairan Indonesia. Berkaitan dengan pribadi Amir, Anthony H. Johns menyebutnya sebagai a distinctive and uncompromising individual. H.B. Jassin dan Zuber Usman menyebutnya sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Sedangkan A. Teeuw menyebutnya sebagai, the only pre-war poet in Indonesia whose works reaches international level and is of lasting literary interest.

4. Penghargaan

Penghargaan terhadap jasa dan sumbangsih Amir Hamzah terhadap bangsa dan negara Indonesia baru diakui secara resmi pada tahun 1975, ketika Pemerintah Orde Baru menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Dalam tataran simbolik lainnya, penghargaan dan pengakuan terhadap jasa Amir Hamzah ini bisa dilihat dari penggunaan namanya sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, dan nama masjid di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sumber :

  • Abrar Yusra (ed), 1996. Amir Hamzah--1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair. Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
  • Wikipedia
Sumber:
http://melayuonline.com/ind/personage/dig/301/amir-hamzah-tengku





 

Wednesday, September 25, 2013

Gedung Bank Indonesia cabang Cirebon

Gedung Bank Indonesia cabang Cirebon



Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon.
Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 63 tanggal 31 Juli 1866. Merupakan kantor cabang kelima. Ke-empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama.
 
Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemipin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik.
 
Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). 
 
Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek  F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.
 
 
 

Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Gedung/detail.htm?id=27

Gedung Bank Indonesia Banda aceh

Keindahan Arsitektur Gedung Bank Indonesia di Banda Aceh


BANDA ACEH - Gedung Bank Indonesia (BI) adalah salah satu gedung peninggalan Belanda yang masih ada di Banda Aceh. Gedung karya karya arsitek Vermont Cuypers dan Hulswit ini selesai dibangun pada tahun 1918, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dulunya gedung ini merupakan gedung De Javasche Bank, nama sebelum diubah menjadi Bank Indonesia. Gedung yang terletak di Jalan Cut Mutia ini sempat ditutup tahun 1942, saat Jepang berkuasa. Setelah tentara Dai Nippon pergi dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, baru gedung ini dibuka kembali pada tahun 1964.

Ketika musibah tsunami menghantam Aceh pada Desember 2004, gedung tua ini juga terkena imbasnya. Walau tidak rusak parah, gedung ini tidak bisa digunakan.

Kini gedung yang arsitekturnya hampir sama di beberapa kota lain di Indonesia ini sudah beroperasi kembali mempercantik wajah kota Banda Aceh. :

REF/sumber- See more at: http://m.atjehpost.com/welcome/read/2013/01/11/34915/0/60/FOTO-Keindahan-Arsitektur-Gedung-Bank-Indonesia-di-Banda-Aceh#sthash.9uFCOM6j.dpuf


School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA)

Sumber : https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Stovia_1.jpg&filetimestamp=20080602044021


School tot Opleiding van Indische Artsen ( bahasa Indonesia: Sekolah Pendidikan Dokter Hindia), atau yang juga dikenal dengan singkatannya STOVIA, adalah sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia-Belanda. Saat ini sekolah ini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sunday, February 24, 2013

Post Kolonial & Wisata Sejarah


Judul : Post Kolonial & Wisata Sejarah dalam sajak.
Penulis : Zeffry Alkatiri
Penerbit : Padasan
Cetakan : I, 2012
Tebal : 192 hlm

Kita sering membaca sejarah ditulis dalam bentuk buku teks atau difiksikan dalam bentuk novel, namun sejarah yang ditulis, diinterpretasikan, dan dibukukan dalam bentuk puisi rasanya baru kali ini kita menemukannya dalam buku "Post Kolonial Wisata Sejarah dalam Sajak" karya Zeffry Alkatiri, penyair, pengamat sejarah yang juga pengajar dan peneliti di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UI.

Dalam buku kumpulan puisinya ini Zeffry menafsirkan sejarah dalam bentuk puisi/sajak dalam kalimat-kalimat yang lugas, tanpa kiasan-kiasan atau metafora-metafora yang kadang membingungkan pembacanya. Semua puisinya ditulis dalam bentuk sajak realis sarat dengan kritik sosial yang langsung mengena hati dan pikiran pembacanya.

Sebagai contoh mari kita lihat sajak berjudul Smakelijk Eten, Meneer! yang menggambarkan bagaimana posisi para meneer Belanda dan ungkapan kekesalan jongos pribumi yang melayani mereka di masa kolonial dulu.

"Smakelijk eten, Menner!"
Diucapkan oleh para jongos berseragam tanpa sepatu
Yang antre menyediakan Risjsttafel dalam nampan-nampan
Kepada para Dewa dan Dewi kemakmuran
Yang mulutnya seperti gua
Yang tak pernah selesai menelan segala.

"Makanlah apa yang tuan mau"
Kami akan sediakan.
Kami akan sediakan,
Smakelijk eten, Meneer!"

Cuah!!

(2010)

Buku ini memuat 117 sajak yang terbagi dalam dua bagian besar yang mengikuti periode historis sejarah Indonesia dan dunia, bagian pertama terdiri dari 21 puisi dengan tema nusantara sejak kedatangan pengembara asing yang pertama hingga keadaan Indonesia di masa kolonialisme dan setelahnya . Bagian kedua terdiri dari 96 puisi yang diberi nama Wisata Sejarah yang merupakan tafsiran penulis dari penggalan sejarah bangsa-bangsa di dunia.

Di bagian pertama puisi yang menurut saya paling menarik adalah puisi berjudul "Kami Hanya Menonton: Pengakuan si Midun, si Amat, dan si Inah (Dari Buyut sampai Cucu). Puisi ini merupakan puisi yang terpanjang dalam buku ini, tersaji dalam 104 stanzah, 28 halaman, dalam cakupan periode historis sejak jaman kolonial Belanda hingga masa kini. Puisi ini merekam keadaan sejarah dan kondisi sosial Indonesia dari masa ke masa. Berikut saya cuplikkan beberapa stanzah secara acak (bukan dalam urutan aslinya) dalam puisi ini yang mewakili beberapa periode waktu.

Kami sering menonton:
Ketika para nyonya dan noni
Membeli roti dan kue-kue
Di toko Van Otten dan Borgerij
Kalau sudah begitu
Kami hanya bisa membayangkan
Kue tampah murah Mpok Minah

......

Kami menonton
Orang Belanda dan Indo
Dikerangkeng seperi di kebon binatang
Kami melihat : tubuh mereka kurus dan kumal
Tak bedanya dengan kami yang berada di luar.

.......

Kami menonton:
Banyaknya orang antre beras dan minyak
Di wilayah kampung kami setiap hari
Kami melihat :
Banyak perempuan muda tak mampu
Membeli jepitan rambut paling murah sekalipun

Dan kami juga menonton:
Mulai banyak orang tidur di kolong jembatan,
Di tempat pembuangan sampah, dan di emperan jalan.
Sementara kami menonton:
Presiden kami kawin lagi.

....

Kami menyaksikan :
Generasi baru kami hanya mengenal
Para pahlawan dari beberapa negeri asing
Yang mempunyai nomor dan nama
Di punggung mereka

.....

Kami menonton :
Iring-Iringan mobil presiden hampir setiap hari di Jakarta
Kalau sudah begitu:
Kami harus menunggu lama karenanya.
Bahkan pernah ada seorang ibu yang terpaksa harus melahirkan di jalan.
Sementara presiden, wakil presidan dan para istrinya senyam senyum saja
Melihat jalanan yang dirasakan lenggang olehnya.

....

Ada banyak sekali puisi-puisi menarik dalam buku ini. Bagian pertama dengan mudah kita dapat memahaminya karena pada umumnya kita mengetahui sejarah bangsa kita sendiri, namun di bagian kedua (Wisata Sejarah) dimana berisi puisi-puisi tentang sejarah bangsa-bangsa di dunia walau ditulis dalam puisi yang relaitf pendek-pendek (hanya dalam beberapa baris saja) namun bagi kita yang tidak memahami latar sejarah dunia yang memadai rasanya akan sulit untuk menangkap isi dari puisi-pusi di bagian kedua buku ini.

Buku ini saya rasa baik untuk dibaca siapa saja yang ingin mengetahui sejarah lewat puisi yang realis, terlebih bagi mereka yang suka sejarah. Buku ini menawarkan kebaharuan dalam membaca dan menginterpretasi sejarah plus kritik-kritik sosialnya dalam dalam bentuk puisi. Mona Lohanda dalam kata penutupnya mengatakan bahwa lewat puisi-puisi dalam buku ini "Kita diajak untuk menjadi bijaksana, belajar dari sejarah, belajar menjadi bangsa yang berdikari-mandiri dan berbangga diri"


Buku ini juga dipilih oleh dewan juri Khatulistiwa Litrary Award (KLA) 2012 sebagai pemenang kategori puisi. Dalam laporan pertanggung jawabannya dewan juri berpendapat bahwa :


Ia menghadirkan semacam kritik atas kritik, dengan mengajukan banyak pertanyaan terhadap kenyataan yang dianggap mapan. Sebuah intervensi yang khas sastra terhadap upaya menghadirkan sejarah yang lurus dengan pikiran yang logis.

Satu hal yang menjadi catatan juri KLA 2012 atas buku ini adalah soal judulnya yang tidak mencerminkan sebuah buku puisi :

Satu-satunya masalah dengan kumpulan ini yang dirasakan juri adalah judulnya, yang bisa membuat orang salah mengira sedang berhadapan dengan sebuah tesis ilmiah, dan juga berpotensi mematahkan gairah membaca

Sumber : http://bukuygkubaca.blogspot.com/2012/12/post-kolonial-wisata-sejarah-dalam.html?m=1

Friday, February 15, 2013

Sejarah Komunisme Di Indonesia



Sejarah Komunisme Di Indonesia


Komunisme di Indonesia memiliki sejarah yang kelam, kelahirannya di Indonesia tak jauh dengan hadirnya para orang-orang buangan dari Belanda ke Indonesia dan mahasiswa-mahasiswa jebolannya yang beraliran kiri. Mereka di antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka (yang terahir masuk setelah SI Semarang sudah terbentuk). Alasan kaum pribumi yang mengikuti aliran tersebut dikarenakan tindakan-tindakannya yang melawan kaum kapitalis dan pemerintahan, selain itu iming-iming propaganda PKI juga menarik perhatian mereka. 

Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa. saja, namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi pun ikut di dalamnya. Salah satu anggota yang menjadi besar adalah Semaoen kemudian menjadi ketua SI Semarang. 

Komunisme Indonesia mulai aktif di Semarang, atau sering disebut dengan Kota Merah setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhaluan kiri ke dalam SI (Sarekat Islam) menjadikan komunis sebagian cabangnya karena hak otonomi yang diciptakan Pemerintah Hindia Belanda atas organisasi lepas menjadi salah satu ancaman bagi pemerintah. ISDV menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas banyaknya pemogokan buruh di Jawa. Konflik dengan SI pusat di Yogyakarta membuat personel organisasi ini keluar dari keanggotaan SI, setelah disiplin partai atas usulan Haji Agus Salim disahkan oleh pusat SI. 

Namun ISDV yang berganti nama menjadi PKI semakin kuat saja dan di antara pemimpin mereka dibuang keluar Hindia Belanda. Kehancuran PKI fase awal ini bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan Malaka yang tidak setuju karena komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba menghentikannya. Namun para tokoh PKI tidak mau menggubris usulan itu kecuali mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan itu terjadi pada tahun 1926-1927 yang berakhir dengan kehancuran PKI dengan mudah oleh pemerintah Hindia Belanda. Para tokoh PKI menganggap kegagalan itu karena Tan Malaka mencoba menghentikan pemberontakan dan memengaruhi cabang PKI untuk melakukannya.


Gerakan PKI lahir pula pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang diawali oleh kedatangan Muso secara misterius dari Uni Sovyet ke Negara Republik (Saat itu masih beribu kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato dengan lantang di Yogyakarta dengan kepercayaannya yang murni komunisme. Disana ia juga mendidik calon-calon pemimpin PKI seperti D.N. Aidit. Musso dan pendukungnya kemudian menuju ke Madiun. Disana ia dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis. Gerakan ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno, Amir Syarifuddin yang tidak jelas ideologinya. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri pemberontakan Muso ini. Beberapa ilmuwan percaya bahwa ini adalah konflik intern antarmiliter Indonesia pada waktu itu.


Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut PKI menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, dimana antar ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru dalam politik Indonesia. Permusuhan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas saja, melainkan juga di tingkat bawah dimana tingkat anarkisme banyak terjadi antara tuan tanah dan para kaum rendahan. Namun Soekarno menjurus ke kiri dan menganak-emaskan PKI. Akhirnya konflik dimana-mana terjadi. Ada suatu teori bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta. Yakni PKI yang mengusulkan Angkatan Perang Ke 5 (setelah AURI, ALRI, ADRI dan Kepolisian) dan isu penyergapan TNI atas Presiden Soekarno saat ulang tahun TNI. Munculah kecurigaan antara satu dengan yang lain. Akhirnya dipercaya menjadi sebuah insiden yang sering dinamakan Gerakan 30 September.


Ada kemungkinan Indonesia menjadi negara komunis andai saja PKI berhasil berkuasa di Indonesia. Namun hal tersebut tidak menjadi kenyataan setelah terjadinya kudeta dan peng-kambing hitaman komunisme sebagai dalang terjadinya insiden yang dianggap pemberontakan pada tahun 1965 yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September.

Hal ini juga membawa kesengsaraan luar biasa bagi para warga Indonesia dan anggota keluarga yang dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara 500.000 sampai 2 juta jiwa manusia dibunuh di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September. Hal ini merupakan halaman terhitam sejarah negara Indonesia. Para tertuduh yang tertangkap kebanyakan tidak diadili dan langsung dihukum. Setelah mereka keluar dari ruang hukuman mereka, baik di Pulau Buru atau di penjara, mereka tetap diawasi dan dibatasi ruang geraknya dengan penamaan Eks Tapol.


Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok komunis, marxis, dan haluan kiri lainnya mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun belum boleh mendirikan partai karena masih dilarang oleh pemerintah.
(Sumber: wikipedia)